Oleh Honatus Pigai
Deiyai (NP) – Jumat Agung menjadi hari yang penuh hening, hari di mana Gereja berdiri di kaki salib dan merenungkan misteri penderitaan serta wafat Yesus. Tidak ada kemuliaan yang tampak, tidak ada sorak-sorai, hanya ada luka, darah, dan keheningan. Tapi justru di situlah kita menemukan makna kasih yang paling sejati.
Salib sering kali dipandang sebagai tanda kegagalan. Di zaman lalu orang berpandangan bahwa disalibkan berarti kalah, dihina dan ditolak. Tapi bagi iman Kristiani, salib adalah tanda kemenangan atas kebencian, kehidupan atas kematian, dan pengampunan atas dosa. Yesus tidak melawan dengan kekerasan dan tidak membalas dengan dendam, tetapi memilih untuk mengampuni. Dia mengatakan dengan lantang ketika di atas Salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Yesus memikul bukan hanya penderitaan fisik, tetapi juga beban dosa seluruh umat manusia. Ia merasakan kesepian, ditinggalkan, bahkan berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dalam seruan ini, kita melihat bahwa Yesus sungguh masuk ke dalam pengalaman manusia yang paling gelap dan dalam (rasa ditinggalkan, putus asa, dan hancur Doa alami). Karenanya, Ia tidak jauh dari penderitaan kita, Ia ada di dalamnya.
Jumat Agung mengajak kita untuk berani melihat salib dalam hidup kita sendiri. Setiap orang punya salib (penderitaan, ketidakadilan, kehilangan, luka batin, atau pergumulan hidup yang berat). Sering kali kita ingin lari dari salib, menolaknya atau bahkan menyalahkan Tuhan. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa salib bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.
Di tengah realitas dunia yang penuh kekerasan dan ketidakadilan, salib menjadi cermin yang jujur. Kita melihat bagaimana manusia bisa begitu kejam, tetapi juga bagaimana kasih Tuhan tidak pernah berhenti. Ketika manusia menghukum, Tuhan mengampuni. Ketika manusia membunuh, Tuhan memberi hidup.
Ada satu momen penting di kaki salib. Yesus berkata kepada Maria dan murid yang dikasihi-Nya, “Inilah anakmu… inilah ibumu.” Dalam saat penderitaan, Yesus masih memikirkan orang lain. Ia membangun relasi, menciptakan keluarga baru dan menghadirkan kasih di tengah luka. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahkan dalam penderitaan, kita tetap dipanggil untuk mengasihi.
Jumat Agung juga adalah undangan untuk hening. Dunia kita terlalu bising dan penuh suara, opini, dan konflik. Tetapi hari ini kita diajak diam, merenung, dan memandang salib. Dalam keheningan itu, kita bisa mendengar suara Tuhan yang lembut, suara kasih yang tidak memaksa, tetapi mengundang untuk menemukan dan melakukan solusi dari Dia.
Salib mengajarkan kita bahwa kasih sejati selalu mengandung pengorbanan. Tidak ada cinta tanpa luka, tidak ada pengampunan tanpa perjuangan, dan tidak ada kehidupan tanpa kematian. Tapi justru di situlah letak harapan kita, bahwa setiap luka yang dipersatukan dengan Kristus tidak akan sia-sia.
Dengan demikian Jumat Agung bukan hanya tentang kesedihan, tetapi juga tentang harapan yang tersembunyi. Di balik gelapnya Golgota, ada terang yang sedang menunggu. Di balik kematian, ada kehidupan baru. Kita mungkin belum melihatnya sekarang, tetapi iman mengajak kita untuk percaya.
Maka hari ini, marilah kita berdiri di bawah salib, bukan dengan putus asa, tetapi dengan iman. Kita membawa luka kita, dosa kita, dan harapan kita. Dan kita percaya bahwa dari salib, Tuhan sedang bekerja sekalipun dalam diam-diam, tetapi pasti untuk menghadirkan keselamatan bagi dunia dan bagi hidup kita.
